Minggu, 19 Januari 2014
Sabtu, 18 Januari 2014
Teknik Radiografi HSG
HYSTERO SALPHINGOGRAFI (HSG)
A. Pengertian
a.
HSG Menurut T.Miller
Adalah suatu pemeriksaan serial
foto yang dilakukan dengan memasukkan bahan kontras melalui cervix kedalam cavum uterus dan tuba uterine
melalui suatu alat khusus.
b.
HSG Menurut G.Briand
Adalah pemeriksaan radiology
dari uterus dan saluran uterine dengan cara memberikan bahan kontras.
c.
Kesimpulan
HSG adalah
pemeriksaan radiografi system reproduksi wanita bagian dalam dengan cara
memberikan bahan kontras media positif melalui suatu alat khusus.
Teknik Radiografi Pelvimetri
PELVIMETRI
PENGERTIAN
Menurut Vinita Merill Radiografi Pelvimetri adalah teknik untuk
dapat memperlihatkan bentuk dan ukuran pelvic dariibu dan membandingkan ukuran
kepala janin dengan tulang pelvic outlet dari si ibu.Prosedur ini dilakukan
untuk menentukan apakah diameter pelvic siibu memadai untuk melahirkan secara
normal atau perlu dibantu untuk melakukan pebedahan perurut dalam proses
melahirkan.
Menurut G.J Van Der Plaats Pelvimetri adalah pemeriksaan radiografi untuk
mengetahui secara pasti ukuran pelvic inlet dan outlet dari si ibu yang akan
melahirkan.Pemeriksaan ini dilakukan sebagai informasi kepada dokter kandungan.
Secara Terminologi pemeriksaan Pelvimetri adalah
pemeriksaan radiografi dengan menggunakan sinar – x dan untuk mengetahui ukuran dan bentuk
panggul ibu dan kepala janin.Melalui pemeriksaan ini dapat dipastikan proses
melahirkan yang terbaik bagi si ibu dan
si bayi.
ANATOMI
Rongga pelvis terletak dibawah dan bersambungan dengan
rongga abdomen . pelvis besar adalah pasu tulang yang dibentuk oleh tulang iscium dan pubis yang
merupakan sisi samping dan depan dan tulang sacrum serta kocsigis
membentukbatas belakang . Pinggiran pelvis
dibentuk oleh promotorium sacrum belakang , garis ilioktinal disisi – sisinya dan crista pubis
di depan. Pintu keluar outlet pelvis merupakan jalan lahir terdiri atas jalan
lahir bagian lunak. Dalam proses persalinan pervaginan janin harus melewati
jalan lahir ini.
Jalan lahir bagian lunak terdiri atas :
Ø Segmen bawah uterus , cervic dan vagina
berfungsi sebagai pembentuk jalan lahir bagian lunak.
Ø Otot – otot, jaringan ikat dan ligamen – ligamen yang berfungsi
menyokong alat- alat urogenetalis.
Secara fungsional panggul terdiri dari 2 bagian yang disebut pelvis
mayor dan pelvis minor.Pelvis mayor adalah bagian pelvis diatas ilio pektinea.
Sedang pelvis minor dibatasi oleh pintu atas panggul dan pintu bawah panggul.
PINTU ATAS PANGGUL ( PAP )
- PAP merupakan suatu bidang yang dibatasi oleh promontorium disebelah posterior , oleh linea terminalis disebelah lateral dan oleh pinggir atas symphisis disebelah anterior.
- Ukuran – ukuran pada panggul yang penting untuk diketahui :
Ø Konyugata obstetrika adalah diameter anterior
posterior yang diukur dari promontorium sampai ketengah permukaan posterior
symphisis.
Ø Konyugata diagonalis adalah jarak bagian bawah
symphisis sampai ke promontorium.
Ø Konyugata vera adalah jarak pinggir atas
symphisis dengan promontorium.
Ø Diameter transversal adalah jarak terjauh garis
lintang PAP.
Ø Diameter oblikua adalah garis yang dibuat
antara persilangan konyugata vera dengan diameter transversal ke articulatio sacroiliaca.
PINTU BAWAH PANGGUL ( PBP )
1.
Batas atas
PBP setinggi spina iskhiadaka . jarak
antara spina disebut diameter
Bispinosum
2.
Batas
bawah PBP berbentuk segiempat panjang disebelah lateral oleh tuberositas ischi
dan disebelah posterior oleh os coxsigis dan ligamen sacrotuberosum.
3.
Diameter
anteroposterior PBP diukur dari apex arcus pubis keujung os coxsigis.
RUANG PANGGUL
Ruang panggul merupakan saluran diantara PAP
dengan PBP . Dinding posterior dibentuk oleh os sacrum , os coxsigis sepanjang 12 cm.Pelvis meter tidak dipakai . Jarak tiap ujung diameter anteroposterior
pelvis inlet dan puncak meja harus diukur dengan caliper.
INDIKASI
1.Trauma pelvis
2.Conginetal abnormal pada pelvis
3.Poliomyelitis ( radang akut pada sumsum tulang
belakang )
4.Antenal ( persalinan letak sungsang )
5.Postpartum setelah section caesaria ,persalinan
yang sulit dengan forceps atau kematian prenatal ( menegaskan adanya kehamilan
/ kehamilan ganda)
6.Kesulitan persalinan
7.Persalinan mid forceps ( dengan obat perangsang
)
8.Kematian janin yang tidak dapat diterangkan.
9.Suspect adanya CPD ( cephalo pelvic
disproportion ), keadaan dimana kepala
fetus lebihbesar dari rongga pelvic.
WAKTU PEMERIKSAAN
Pemeriksaan pelvimetri ini
dilakukan pada usia kehamilan 34 – 36
minggu dan sebaiknya dikerjakan dalam waktu 2 minggu terakhir sebelum
persalinan.
PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
1.Pesawat rontgen
2.aksesoris ( kaset dan film berukuran 35 x 35 cm
dan 35 x 43 cmserta perlengkapan lainnya ).
3.Meja
khusus pelvimetri
4.Marker dan alat tulis untuk memberi tanda
5.Water pass
6.Thomas plate
7.Penggaris cm
8.Penggaris colccher – sussman
9.Automatic processing
TEKNIK RADIOGRAFI
METODE THOMS
Pada metode Thoms untuk pengukuran pelvis diperlukan 2 proyeksi
yaitu lateral dan inlet suferoinferior.Kedua proyeksi ini dibuat pada jarak
focus film 90 cm .Thoms dan Wilson menganjurkan bahwa persamaan jarak tetap
dapat dilakukan dalam menjaga relatif nilai ukur 2 bayangan / gambar dan agar
dapat meminimalkan kesalahanyang disebabkan oleh perbedaan berkas radiasi.
Untuk proyeksi lateral pasien ditempatkan pada posisi erect dan centimeter pada
garis besi diatur berlawanan sacrum dalamlipatan nates.
Proyeksi inlet diperlukan 2x ekspose dalam 1 film. Untuk ekspose
pertama pasien diposisikan setengah duduk dan atur sehingga plane pelvis hampir
sejajar dengan permukaan film dan jarak inlet dengan table diukur. Ekspose
kedua pasien dipindahkan ( sambil film
dan tube dibiarkan ) diatur dan ditempatkan lebih dahulu dengan pelvis inlet
lalu dibuat ekspose kedua.
Dengan type grid timbal yang dulu , dimana dibuat lubang – lubang
dengan jarak 1 cmseperti dimana pola all over , menghasilkan titik hitam sepeti
skala cm yang mempunyai derajat magnifikasi yang sama dengan pelvis inlet ,
jadi diameter inlet yang diinginkan dapat dibaca dengan menghitung titik –
titik tersebut. Dengan modifikasi grid timbal , lubang – lubang dibuat
memanjang keujung membentuk jarak permukaan diameter transversal berbeda dengan
pelvis inlet yang memungkinkan perhitungan. Perbedaannya hanya pada teknik
penggunaan kedua grid tersebut.
Teknik Radiografi Fistulografi
A.PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
;
a.Peralatan radiologi dan proteksi radiasi.
-Pesawat rontgen dengan
fluoroscopy dilengkapi TV monotor.
-Apron,kacamata Pb,dan
hand scoon Pb.
-Kaset ukuran 24X30 cm
-Kacamata lonpe
b.Peralatan steril:
-Spuit 50 cc 1 buah
-Spuit 3cc 1 buah
-Catheter tip no.8
-Hand scoon
-Lacrimal probe
-Klem
-Kapas berlidi
-Haas steril
c.Peralatan unsteril :
-Betadine
-Plester
-Gergaji ampul
-Bahan kontras ;Urografin 60 % sebanyak 2
ampul .
B.PERSIAPAN PEMERIKSAAN :
-.Bersihkan luka pasien dengan haas steril
-Oleskan betadine dengan kapas berlidi pada luka tersebut
-Cari lubang luka dan diukur kedalamannya dengan lacrimal probe
-Masukkan bahan kontras sebanyak 50 cc kedalam spuit
C.PERSIAPAN PASIEN
Pada pemeriksaan fistulografi
eksternal tidak di lakukan persiapan khusus.
D.PENATALAKSANAAN
RADIOGRAFI
Teknik balon pada fistulografi eksternal
:
1.
Posisi
pasien supine diatas meja pemeriksaan.
2.
Balon
kateter diberi udara secukupnya ( agak besar sedikit dari rongga mulut luka ).
3.
Masukakan
ujung distal kateter kedalam rongga luka, lalu diplester.
4.
Dengan
bantuan tangan pasien atau petugas, balon ditekan dengan kuat.
5.
Hubungkan
ujung proksimal kateter dengan spuit yang telah diisidengan bahan kontras.
6.
Injeksikan
bahan kontras perlahan-lahan, dengan pantauan fluoroscopy tampak bahan kontras
bergerak masuk keusus halus, pada saat ini diekspos ketika pasien tahan nafas.
7.
Kontras
diinjeksikan lagi, dengan patauan fluoroscopy tampak bahan kontras masuk ke
colon ascendens dan diekspos pada saat pasien tahan nafas.
8.
Pasien
diposisikan oblique kiri, lalu kontras diinjeksikan perlahan-lahan dan tampak
pada TV monitor kontras mengisi usus halus dan menuju colon ascendens.
1. AP
PP : - Supine pada meja pemeriksaan.
-
MSP tubuh
berada pada midline pada meja dengan kedua tangan
diletakkan di samping
dengan nyaman.
PO : Batasan pemeriksaan obyek dapat
dilihat pada tv monitor dengan
daerah fistula pada
pertengahan film.
CR : Sinar di arahkan tegak lurus.
CP : Pertengahan kaset menembus daerah fistula.
KG: Bahan kontras mengisi fistula
2. Lateral
PP : - Supine diatas meja pemeriksaan.
1.
MSP tubuh
berada pada pertengahan meja.
PO : Batasan pemeriksaan objek dapat dilihat pada
tv monitor dengan
daerah
fistula di pertengahan film.
CR : Sinar
diarahkan horizontal tegak lurus kaset ( Kaset dalam posisi
vertikal
).
KG : Tampak kontras
mengisi fistula dengan gambaran lateral.
3. Oblique
Oblique kanan atau kiri diambil tergantung pada letak fistel dengan
tujuan sebagai pelengkap untuk mendiagnosa fistula.
PP : RAO atau LAO.
PO : Fistula berada di pertengahan film.
CR : Tegak lurus.
CP : Pertengahan film menembus fistula.
KG : Kontras mengisi fistula dengan posisi oblique.
Setelah selesai
pemeriksaan, cabut introduser dan selanjutnya bersihkan kontras yang tumpah,
tunggu film selesai di proses. Pasien diperbolehkan istirahat.
Pengantar Radioterapi
A.
Sejarah Radioterapi
-
1910 : HAMPIR SEMUA PENYAKIT TELAH DICOBA
DIOBATI DENGAN SINAR-X DI PERANCISREGAUD, LAGASSAGNE DAN CAURTARD MELETAKKAN
DASAR RADIOTERAPI MODERN DENGAN MEMBERIKAN DOSIS SECARA FRAKSIONAL DAN
MENEKANKAN PENTINGNYA OBSERVASI KLINIK DALAM RADIOTERAPI.
-
PENGGUNAAN RADIUM: RADIUM DITEMUKAN OLEH MARIE CURIE – 1898 RADIUM
MEMANCARKAN RADIASI SINAR ALPHA, BETHA DAN GAMMA DAN MEMPUNYAI SIFAT SAMA
DENGAN SINAR-X.
BECQUEREL – LUKA DIKULIT DADA AKIBAT SELALU
MENGANTONGI RADIUM
-
DANLOS – ST. LOUIS PARIS: PERTAMA KALI MENGGUNAKAN RADIUM
UNTUK MENGOBATI PENYAKIT KULIT DENGAN HASIL YANG MEMUASKAN
-
ABBE 1995 -> MEMAKAI RADIUM UNTUK PENGOBATAN
SECARA IMPLANTASI
-
OUDIN & VERCHERE 1906 -> APLIKASI RADIUM
INTRA UTERINE
-
JANEWAY 1908 -> IMPLANTASI TUMOR DENGAN
RADON
-
FORSSEL MENGUMUMKAN PENYINARAN 40 KASUS
KARSINOMA PORTIO UTERI DENGAN RADIUM
-
HERMAN MENYEMPURNAKAN APLIKASI RADIUM DAN
DIKENAL DENGAN TEKNIK STOKHOLM
-
TEKNIK PENGGUNAAN RADIUM
KINI DITINGGALKAN KARENA INTENSITAS RADIASI YANG DIPANCARKAN SANGAT KECIL DAN
PASIEN MERASA KURANG NYAMAN KARENA HARUS DITANAM RADIUM DALAM BEBERAPA HARI
UNTUK MENDAPATKAN SEJUMLAH DOSIS TERTENTU
-
KINI DIPAKAI TEKNIK PENANAMAN SUMBER RADIASI
DENGAN JENIS HDR (HIGH DOSE RATE) DENGAN TEKNIK AFTER LOADING
B.
Pengertian Radioterapi
adalah Pengobatan penyakit keganasan ( Kanker )
dengan menggunakan energi pengion maupun non pengion.
-
Energi pengion : sinar x ( roentgen ) sinar γ(Co60, Irridium192 dll),
sinar β (elektron).
-
Non Pengion : Menggunakan panas (
Hyperthermi )
C. Prinsip Radioterapi
1.
Memberikan dosis radiasi yang tepat dan terukur
pada volume tumor yang ditentukan
2.
Menghindari / mengurangi kerusakan jaringan
sehat disekitarnya seminimal mungkin
D. Prosedur Radioterapi
1. INVESTIGASI
: Diagnosa awal ( PA,Radiologi,lab
)
2. ADA / TIDAKNYA INDIKASI PENGOBATAN RADIASI
3. PENENTUAN TUJUAN PENGOBATAN RADIASI ;
KURATIF / PALIATIF ?
- Kuratif : Pasien
mempunyai kemungkinan bertahan hidup / sembuh setelah pengobatan adekuat. Dosis diberikan cukup tinggi
- Paliatif : Tidak ada harapan pasien bertahan
hidup dalam periode tertentu.Tujuan pengobatan hanya mengurangi gejala /
keluhan ( meningkatkan kualitas hidup ). Dosis diberikan secukupnya ( 2/3 dosis
kuratif ) dengan pemberian yang sesingkat mungkin
4. PENETAPAN VOLUME RADIASI
5. PENETAPAN PLANNING RADIASI
6. PELAKSANAAN RADIASI
7. MONITORING / FOLLOW UP PASIEN
8. EVALUASI
E. Fasilitas
RAdioterapi
1. KLINIK RAWAT JALAN
a.
Menerima rujukan dari Spesialis lain
b. Melihat
kelengkapan dokumen dan pemeriksaan penunjang : PA, Radiologi, Lab.
c. Mengevaluasi
diagnosis PA, Staging, Radikalitas operasi.
d. Menentukan
perlu tidaknya radiasi
e. Menentukan
tujuan terapi radiasi
f.
Menentukan metode radiasi
2. TELETERAPI /
RADIASI EKSTERNA
Suatu cara pemberian radiasi dengan sumber
radiasi dari luar tubuh pasien dan ada jarak tertentu dengan target atau area
penyinaran
PESAWAT RADIASI EKSTERNA
• Kilo Voltage
-
Contact Terapi :
40 – 50 KV
-
Superfisial Terapi :
50 – 150 KV
-
Orthovoltage (Deep Terapi) : 150 –
500n KV
• Mega Voltage
-
Cobalt Teleterapi :
1 – 2 MV
-
Linear Accelerator (LINAC) : 6 MV,
10 MV

OrthoVoltage

Linac
3.
SIMULATOR
a.
Duplikat pesawat radiasi secara geometris,
mekanis dan peralatan optik, tapi hanya menggunakan tabung x-ray diagnostik.
b. Sarana untuk
menentukan lapangan radiasi dengan akurat. Menentukan lokalisasi lapangan
penyinaran, arah penyinaran serta daerah jaringan normal yang perlu dikeluarkan
dari lapangan radiasi.
c. Dapat digabung
dengan CT-Scan à
CT-Simulator

Simulator
4. MOULD ROOM
Ruang
untuk mencetak dan membuat :
•
Masker ,
alat untuk fiksasi kepala
•
Bolus ,
untuk menghomogenkan distribusi dosis
•
Block ,
untuk menghambat sinar
Alat-alat bantu penyinaran


Contoh-contoh Produk
Mouldroom
5. TREATMENT
PLANNING SYSTEM (TPS)
a.
Untuk perencanaan radiasi secara komputer
b. Menentukan arah
radiasi yang paling optimal
c. Menjelaskan
gambaran distribusi dosis yang terjadi pada satu atau beberapa lapangan radiasi yang diberikan pada treatment volume.
d. Mengkonversi
gambaran CT / MRI diagnostik untuk krperluan terapi.
6. BRAKHITERAPI /
AFTER LOADING
Adalah : Cara pemberian radiasi dimana sumber radiasi didekatkan sedekat
mungkin dengan organ target yang akan diradiasi.
•
Sumber radiasi
yang dipakai : Iridium 192
•
Nama alat / pesawat : Microselectron

7.
RADIASI INTERNA
Adalah :
Jenis terapi radiasi dengan cara memasukkan sumber radiasi kedalam tubuh , baik
secara oral maupun intravena sehingga mengikuti metabolisme tubuh.
•
Sumber radiasi yang dipakai : Iodium131 dan Samarium
•
Selama proses radiasi, pasien ditempatkan pada
ruang khusus ( ruang isolasi radiasi )
•
Pasien diperbolehkan pulang, setelah aktivitas
radiasi yang ada dalam tubuh pasien dianggap aman ( ≤ 0,33 mCi )
Langganan:
Postingan (Atom)